BAB IV Stratifikasi Sosial Masyarakat Industri
A. Keterkaitan Industri Dengan Yang Lainnya
Kajian tentang masyarakat selalu menarik untuk diperbincangkan dan bersifat dinamis. Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi serta industri didalamnya. Secara historis perkembangan masyarakat industri berawal dari terjadinya revolusi industri di Inggris dan revolusi politik yang terjadi di Prancis. Revolusi industri yang terjadi di inggris yang pada awalnya menggunakan alat produksi yang bersifat tradisional beralih secara modern kapitalis. Berbicara tentang sosiologi industri berarti tidak terlepas dengan adanya fenomena sosial yang menyangkut tentang hiruk pikuk di kehidupan masyarakat perkotaan dan kehadiran perusahaan di tengah masyarakat. Setiap kehadiran suatu perusahaan di tengah masyarakat secara langsung maupun tidak langsung membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat.
Menurut S. R. Parker, R.K. Brown, J. Child, M.A. Smith, Sosiologi industri ialah suatu cabang ilmu sosial yang membahas karakter dan arti dunia kerja serta kehidupan manusia yang terlibat di dalamnya. Permasalahan yang berhubungan dengan industri tidak hanya segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan kegiatan kerjanya tapi banyak juga hal lain yang secara tidak langsung akan mempengaruhi aktivitas kerja dalam industri tersebut. Variasi dari konteks tersebut berarti bahwa pekerjaan pun bervariasi baik dalam perpindahan kerja ataupun perpindahan jabatan maupun 61 tingkat kepuasan bagi pekerjanya, kesempatan maupun monotonitasnya, risiko maupun upah yang didapatkannya. Sosiologi industri disebut juga sebagai sosiologi organisasi, membahas sikap dan ideologi setiap pimpinan pada suatu tingkat dalam struktur organisasi dan juga membahas apa yang dilakukan individu dalam organisasi.
Sosiologi industri membahas pula tentang jenis-jenis masyarakat yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung di dalam aktivitas dan eksistensi organisasi. Sistem Industri akan terkait dengan berbagai aspek kehidupan, di bawah ini akan dijelaskan antara lain sebagai berikut:
1. Industri dan Ekonomi
Menurut Parker, konsepsi ekonomi sebagai suatu subsistem masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat merupakan pengatur suatu sistem. bisa dikatakan juga ekonomi merupakan induk sistem dari beberapa subsistem lain. setiap subsistem memiliki peranan fungsional dalam hubungannya dengan sistem ekonomi sekaligus juga dengan sistem sosial yang merupakan induk dari semua sistem. Berbagai penemuan baru, perkembangan teknologi dan perubahan dalam dunia telah mengubah secara radikal karakter industrial inggris dalam beberapa tahun tekahir ini. Industri-industri dengan teknik baru, misalnya didalam bidang elektronik, pesawat terbang, mobil, dan industri kimia serta dalam bidang konstruksi mesin dan teknologi perminyakan, telah menjadi bagian terbesar dari nilai ekspor dan memberikan kesempatan kerja yang cukup besar.
Menurut Parker, Nilai memainkan peranan penting di dalam merasionalisasikan norma-norma tertentu didalam suatu organisasi. Nilai yang berlaku biasanya selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi agar memungkinkan dirinya mampu mengembangkan dan mengendalikan berbagai macam sistem sosial dan ekonomi dalam suatu masyarakat. Di dalam masyarakat industri modern suatu nilai tertentu telah digunakan untuk mengendalikan, mengembangkan dan meningkatkan produktivitas ekonomi.
Perlu dicatat bahwa kenaikan laju konsentrasi industri yang menjadi ciri khas dalam perekonomian Inggris pada tahun 1960-an, telah menciptakan suatu situasi dimana sejunilah kecil perusahaan sekarang ini telah menguasai sektor industri tertentu.
Suatu pertanyaan yang berkaitan dengan struktur ekonomi yang perlu mendapatkan perhatian serius ialah ‘‘siapakah yang menjadi pemilik kekayaan negara?‘‘ Sering disinyalir bahwa kenaikan pajak justru memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin, tetapi hanya sedikit fakta akurat yang mendukung pernyataan ini.
di Inggris meliputi jumlah 5% dari populasi penduduk yang berumur 25 tahun keatas, dan 55% di antara populasi tersebut dapat digolongkan ke dalam kelompok orang-orang kaya (Atkinson, 1975:134).
Walau suatu gambaran komparatif dari tahun 1950-1952 menunjukkan bahwa terdapat kurang lebih 68% populasi yang termasuk ke dalam kelompok orang kaya, tetapi 1% dari 5% orang yang paling kaya (ke dalam kelompok ini termasuk orang-orang kaya yang memberikan hartanya sebagai warisan terhadap ahli waris sebelum kematiannya) telah mengalami perubahan besar di dalam jumlah nilai kekayaannya yang terjadi di antara tahun 1967-1969.
Masalah perindustrian dan akibatnya yang dirasakan oleh perekonomian secara keseluruhan, terutama yang menyangkut masalah perburuhan, telah ditunjukkan oleh semakin meningkatnya pengaruh dan kekuasaan serikat-serikat buruh (note: indikasi ini semakin terasa setelah perang dunia ke-ll para pengusaha duduk 63 bersama dengan para wakil buruh didalam komite produksi bersama yang disebut Trades Union Congress dimana cabangnya tersebar hampir disemua perusahaan industri, di Inggris.
Variasi dalam bidang lapangan kerja dan meningkatnya kemakmuran dapat kita perhatikan dalam sebuah ekspansi terhadap pasar konsumen remaja di dalam berbagai bentuk barang-barang konsumsi dan jasa, terutama pakaian, kaset dan berbagai produk lainnya, jelas merupakan akibat langsung dari situasi pasar yang cukup baik, didukung pula oleh pelayanan perusahaan yang baik dan tenaga kerja yang masih muda dan ini berakibat meningkatnya standar upah dan kesejahteraan di Inggris.
Pertumbuhan pesat dari penjualan barang-barang mebel dan, berbagai barang yang tahan lama lainnya (durable consumer good) telah berkembang dengan pesatnya karena adanya sistem kredit.
2. industri dan pendidikan
Menurut S.R. Parker, terdapat hubungan antara industri dan sistem pendidikan bersifat timbal-balik, serta memiliki pengaruh besar terhadap tenaga kerja yang telah terlatih atau calon tenaga kerja yang memiliki latar belakang dan tingkat pendidikan yang cukup memadai untuk mendapatkan suatu latihan, dipihak lain industri sendiri meinpunyai suatu sub sistem ‘‘pendidikan‘‘ yang khas, termasuk .
Terdapat pengaruh industri pendidikan yang nyata serta mudah di lihat adalah dari sektor pendidikan, yaitu adanya kecenderungan 64 untuk menyususn dan menerapkan kurikulum serta materi pelajaran di sekolah maupun universitas supaya sesuai dengan kebutuhan industri.
Ada yang disebut pembiasan: fungsi (vocational bias) pendidikan dimaksudkan agar tujuan pendidikan dapat mengarahkan siswanya untuk memiliki persiapan di dalam bekerja.
Dalam tahun tahun terakhir ini jumlah lembaga-Iembaga pendidikan teknik tersebut telah mengembangkan kurikulum dan sistem pendidikannya, sehingga bisa disejajarkan dengan sistem pendidikan di universitas, bahkan sekarang banyak diantara lembaga-Iembaga tersebut yang telah mengubah dirinya menjadi universitas.
Pengaruh pendidikan terhadap perkembangan industri, pendidikan serta berbagai latihan keterampilan atau kejuruan yang ada di dalam perusahaan merupakan refleksi atau perluasan dari tujuan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam ‘‘pendidikan yang akan disampaikan kepada masyarakat luas.
Beberapa jenis sistem pendidikan tertentu‘‘ termasuk diantaranya sistem magang bersama dengan tenaga kerja terdidik telah memberikan pengaruh terhadap komposisi dan distribusi sumber-sumber tenaga kerja (man power resources) dan secara keseluruhan akan mengangsir dunia industri.
Semenjak abad pertengahan, sistem magang sudah dikenal baik dalam dunia perdagangan maupun industri.
Sistem magang memiliki sifat paternalistik, yang menggambarkan hubungan bapak dengan anaknya antara seorang mekanik berpengalaman dengan seorang pekerja-pemula.
sekarang ini sistem magang sudah hampir hilang tetapi masih banyak perusahaan yang mempertahankannya Seorang pekerja pemula biasanya harus melalui masa magang selama 4 sampai 5 tahun, atau sejak umur 15 atau 16 tahun.
Sebagian pengusaha memberikan pendidikan yang cukup baik bagi para pekerja pemula, sedangkan sebagian lagi kurang begitu memperhatikannya.
Sekalipun sudah berusia lebih dari 30 tahun, , penelitian Willaiam (1957) mengenai sistem magang ternyata masih relevan dengan situasi dan kondisi sekarang.
Biasanya pengusaha lebih mempercayakan pendidikan dan pelatihan bagi calon pekerja ketangan pekerja itu sendiri karena dianggap memiliki keahlian, dimana penilaian terhadap instruktur tersebut biasanya didasarkan pada pengalaman lamanya bekerja.
Setelah membahas tentang job training, termasuk sistem pendidiKan magang, selanjutnya kita akan membahas tentang apa yang disebut ‘‘day release‘‘ dan ‘‘sandwich‘‘.
‘‘Day-Release‘‘ berarti bahwa seorang pekerja mula yang baru masuk mendapatkan hari bebas cari pekerjaannya, biasanya sehari dalam satu minggukerja yang harus digtinakan untuk mengikuti kursus pada berbagai jenis lem¬baga pendidikan teknik.
Ada tiga tingkatan kursus yang dapat diikuti oleh seorang pekerja, yaitu: pertama kursus untuk men-duduki jabatan profesional, kedua kursus untuk menjadi teknisi dan ketiga untuk menduduki jabatan sebagai tenaga mekanik.
Untuk menjadi seorang teknisi diperlukan kursus antara tiga sampai lima tahun, sedangkan untuk menjadi seorang tenaga mekanik diperlukan kursus selama tujuh tahun dan untuk menjadi tenaga profesional diperlukan lebih dari tujuh tahun.
Begitu juga mengenai tenaga Kerja dan Pendidikan, sampai dengan masa Perang Dunia I, dalam dunia industri terdapat tiga macam kelompok kerja, yang semuanya berkaitan dengan berbagai tingkatan dalam perkembangan teknologinya. Ketiga macam kelompok itu ialah:
a. Unskilled manual (tenaga kerja tidak terampil)
b. Skilled manual (tenaga kerja terampil)
c. Personal administrasi dan komersial
Terlalu mementingkan spesialisasi akan mengakibatkan seorang pekerja memiliki keahlian yang tinggi dalam satu pekerjaan; tetapi untuk mengerjakan pekerjaan lain, bahkan pekerjaan yang sama tetapi dengan peralatan dan teknologi baru, dia harus mengikuti pendidikan atau latihan lagi.
Menurut Parker, mengenai Sekolah dan pekerjaan, masa transisi dari ‘‘dunia sekolah‘‘ memasuki ‘‘dunia kerja‘‘ akan menimbulkan dua macam masalah yang akan dibahas dibawah ini, yaitu: ‘‘aspirasi dan harapan‘‘ calon pekerja yang baru saja menyelesaikan studinya berkaitan dengan dunia kerja yang akan dimasukinya, dan yang kedua ialah ‘‘proses pemilihan pekerjaan‘‘.
Sekalipun demikian informasi dari pendidikan tersebut tidak bisa dilakukan secara langsung sebab disamping pendidikan seorang pekerja memerlukan juga pelatihan-peralithan secara khsusu untuk lebih mematangkan kemapuan dalam dunia kerjanya.
Selain itu berbagai media komunikasi massa dapat juga memberikan informasi langsung kepada masyarakat, baik berupa iklan tawaran kerja maupun berupa informasi tentang sesuatu pekerjaan yang meliputi posisi, sarana dan berbagai fasilitas lainnya yang diharapkan bisa diperoleh masyarakat yang berminat.
Hal tersebut dapat memberikan gambaran yang cukup baik bagi para peserta didik mengenai ruang lingkup pekerjaan yang akan dimasukinya secara signifikan dapat berpengaruh dalam proses pemilihanb pekerjaan yang dilakukannya.
Kedua teori itu menyatakan bahwa kita harus menganggap masuknya seorang dalam dunia kerja sebagai suatu proses.
Tapi kedua teori tersebut memiliki juga perbedaan, dimana Ginzberg lebih menekankan pertumbuhan kesadaran individu terhadap interest, dan kemampuannya, sedangkan Super lebih menekankan peranan lingkungan sosial individu di dalam membentuk struktur konsep individu terhadap interest, kemampuan dan kapasitasnya Roberts (1975) menyatakan bahwa persamaan dan perbedaan di atas yang pada dasarnya bertumpuk pada proses yang dialami seseorang dalam memilih pekerjaan dengan melalui serangkain tahapan yang dapat diidentifikasi, sebetulnya tidak memadai untuk menerangkan sikap seseorang dalam memilih suatu pekerjaan.
Dia menyatakan bahwa karir dapat dianggap sebagai suatu perkembangan pola-pola yang diatur oleh oportunity structure, untuk mengekspose seseorang pertama kali dengan melalui pendidikan dan kemudian diikuti oleh prestasinya, dalam pekerjaan.
Sebaliknya ambisi individual dapat dinyatakan sebagai refleksi dari pengaruh struktur terhadap diri seseorang, yang dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap prestasi kerja dan lingkungan pekerjaan.
3. industri dan keluarga
Menurut S.R. Parker, Interaksi antara industri dan keluarga terjadi di dalam dua tingkatan yang pertama ialah interaksi antara organisasi industri dan struktur keluarga sebagai sistem keseluruhan, dan yang kedua, adalah dalam kaitannya dengan tingkat peranan individual yakni interaksi antara pekerjaan dengan lingkungan keluarga dari setiap individu.
Pertama, kita harus mempertimbangkan pengaruh dari berbagai jenis organisasi industri modern terhadap pola-pola kehidupan keluarga dan yang kedua, memperhitungkan pengaruh peranan pekerjaan terhadap peranan keluarga.
Selanjutnya kita harus meninjau pengaruh berbagai jeniskeluarga terhadap pembentukan pola tingkah laku danpola organisasi industri.
Kenyataannya bahwa kebanyakan studi empiris yang menyelidiki interaksi antara pekerjaan dengan kehidupan keluarga sering berpijak pada data ‘‘kelas sosial‘‘ semua keluarga yang menjadi obyek penelitian, sehingga dalam membahas pengaruh industri terhadap berbagai aspek kehidupan keluarga, kita harus memperhatikan ‘‘kelas sosial‘‘ sebagai suatu faktor utama.
4. industri dan suami-istri
Dalam dunia Industri, baik secara langsung maupun tidak langsung akan ikut membentuk peranan yang dimainkan oleh pihak suami maupun istri di dalam suatu keluarga dan juga akan ikut membentuk arah dan corak hubungan an tara suami dan istri berkenaan dengan peranannya di dalam keluarga.
Umumnya, lingkungan keluarga dan lingkungan kerja akan berkembang menuju arah yang berbeda, terutama dikarenakan oleh adanya spesialisasi pekerjaan dalam peranannya di dalam masyarakat.
Selain itu, jika kita melihat lebih dekat lagi terhadap hubungan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga, ternyata tingkat integrasi pekerjaan dan kehidupan keluarga pada berbagai tingkat sosioekonomi yang berbeda akan menunjukkan banyak perbedaan pula.
Dalam keluarga golongan menengah, keadaan keuangan dan status keluarga banyak tergantung pada pekerjaan sang suami jika suami bekerja di dalam pekerjaan yang secara teknis cukup kompleks dan sulit bisa dimengerti, dalam hal membantu atau terlibat langsung dalam 69 pekerjan suami.
Dalam suatu masyarakat, dimana secara tradisional yang bekerja itu hanyalah suami, akan terlihat adanya pemisahan antara pekerjaan dengan keluarga.
Edgell (1970) telah mencoba melakukan penelitian terhadap sejumlah keluarga kelas menengah berkaitan dengan pengaruh pekerjaan terhadap hubungan suami istri.
5. industri dan keluarga
Berbagai pola hubungan antar keluarga selalu dipengaruhi oleh pekerjaan yang dimiliki oleh keluarga-keluarga tersebut: baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dia menyatakan bahwa ada suatu keterikatan di antara keluarga yang mungkin akan menjadi lebih kuat apabila ada suatu kerjasama dalam suatu pekerjaan di antara mereka.
Kekuatan suatu keluarga dalam hubungannya dengan tetangga tergantung secara, langsung kepada jabatan suaminya di tempat pekerjaannya, yang akan memberikan suatu status kepada keluarganya secara keseluruhan.
Jika seseorang bertetangga dengan salah seorang koleganya, hubungan yang terjadi di antara keluarga mereka akan semakin erat, tetapi jika koleganya itu tidak bertetangga dengannya, pola pergaulannya hanya akan terjadi di antara kedua suami saja.
6. industri dan sosialisasi
Posisi sosial ayah dalam lingkungan sosial masyarakat menimbulkan pengaruh besar terhadap proses sosialisasi seorang 70 anak (Schneider, 1969, ha1.
Pada orang tua di setiap tingkatan sosial terdapat suatu kecenderungan dimana posisi sosial membentuk suatu pola peran tertentu bagi anak-anaknya.
Beda dengan anak-anak dari keluarga golongan menengah, dimana pihak orang tua memiliki banyak waktu luang untuk memperhatikan perkembangan dan pendidikan anaknya.
Akan tetapi seorang yang berasal dari keluarga kelas pekerja, jarang mampu meningkatkan posisi sosial, justru mereka dipaksa untuk bersikap patuh dan tidak banyak membuat kesulitan bagi masyarakat sekelilingnya.
banyak bukti yang memajukan bahwa dalam hubungan antara industri dan keluarga, pihak industri memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keluarga dibanding sebaliknya.
Sebagai suatu contoh yang menunjukkan betapa pentingnya peranan keluarga terhadap industri maupun dalarn suatu perubahan sosial yang tersembunyi, Goode (1964) telah mencoba membandingkan usaha yang dilakukan oleh Jepang dan Cina untuk melakukan industrialisasi pada akhir abad 19 dan awal abad 20).
Terdapat berbagai tipe hubungan antara keluarga dan pekerjaan Sebagai permulaan kita mengambil suatu postulat dari Raports (1965) yaitu: pekerjaan dan peran keluarga cenderung bersifat isomorfik (saling-pengaruh-mempengaruhi satu sarna lain dengan satu cara tertentu untuk membentuk suatu pola struktur yang sarna), atau heteromorfik (membentuk suatu struktur yang masing-masing 71 berbeda).
Dari berbagai studi dan observasi yang telah disebutkan, (yaitu studi mengenai keluarga dimana istri ikut bekerjasama dengan suaminya di dalam pekerjaannya, studi tentang keluarga dilnana rumah terdapat tinggal digunakan oleh ayah sebagai kantor atau toko, studi mengenai keluarga petani dan sedikit pembahasan mengenai keluarga Jepang modern), ternyata semua studi tersebut menunjukkan adanya isomorfisme antara pekerjaan dengan kehidupan keluarga.
Minimal relationship atau neutral relationship di antara keluarga dan pekerjaan terjadi jika di dalam keluarga peranan ayah dalam pekerjaannya tidak berhubungan dengan usaha keluarganya untuk membentuk gaya hidup tertentu.
7. industri dan ibu rumah tangga yang bekerja
Terdapat beberapa faktor yang mendorong peningkatan jumlah pekerja wanita yang sudah menikah mungkin adalah kesempatan, kapasitas dan motivasi. Berkaitan dengan"kesempatan" terdapat lima sub faktor, yakni :
a. Kekurangan tenaga kerja.
b. Perubahan di datam struktur pekerjaan.
c. Berubahnya pandangan masyarakat terhadap wanita yang bekerja.
d. Hilangnya diskriminasi.
e. Perubahan dalam industri.
8. Problema Karir Ganda dalam Keluarga
Di dalam hubungannya dengan posisi masing-masing, setiap pasangan suami istri memiliki cara yang berbeda di dalam mengatur peranannya dalam pekerjaan dan rumahtangga.
Wanita yang bekerja secara part timer umumnya menganggap bahwa pekerjaan hanyalah sekedar hobbi dan hanya menduduki prioritas kedua di bawah kepentingan keluarga.
Tetapi dalam keluarga dualisme karir egalitarian, suami-istri bekerja tidak hanya sekedar mencari nafkah tetapi juga dalam persaingan untuk mendapatkan posisi yang sama dalam pengambilan keputusan serta berbagai aktivitas dalam keluarga (Rapoport 1976, hal 286-296).
Di dalam hubungan ini terdapat berbagai permasalahan sebagai berikut:
a. Over-load (beban berlebih-lebihan). Kedua suamiistri dibebani terlalu banyak tanggung jawab.
b. Tidak adanya sanksi lingkungan. Mungkin seorang istri masuk ke dalam suatu pekerjaan dimana istrinya tidak diterima secara keseluruhan, atau menjadi subyek kritik, karena mengabaikan anak-anaknya
c. Identitas pribadi dan harga diri. Baik suami maupun istri harus mampu mengatasi kritik-kritik
d. Dilema hubungan sosial. Hubungan antara keluarga dengan tetangga menjadi renggang karena sibuk pekerjaan diluar rumah
e. Konflik peran ganda. Terdapat konflik baik bagi suami maupun istri diantara kepentingan perusahaan.
B. Stratifikasi Sosial Masyarakat Industri
Stratifikasi sosial masyarakat industri tentu akan mengacu pada pembagian anggota masyarakat pada tingkatan atau strata yang berkaitan dengan sikap dan karakterisitik masing-masing anggota atau kelompok (schneider, 1069:148).
Stratifikasi bukanlah suatu sub-sistem dalam masyarakat, lain halnya dengan ekonomi, pendidikan atau keluarga yang merupakan sub-sistem masyarakat.
Dalam bagian ini akan dibahas masalah hubungan antara stratifikasi sosial dalam berbagai bentuk di dalam industri dan masyarakat luas.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat industri modern, memiliki dua bentuk utama, yaitu: kelas dan status.
‘‘Kelas‘‘ umumnya digunakan untuk menunjukkan pembagian di dalam masyarakat yang didasarkan atas posisi ekonomi dalam masyarakat, tanpa memperhatikan apakah mereka menyadari posisinya itu atau tidak.
‘‘Status sosial‘‘ tidak menggambarkan pembagian posisi dalam masyarakat, tetapi menunjukkan tingkat posisi seseorang atau kelompok yang ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk diantaranya di dalam masyarakat.
Sementara itu Marx Weber lebih menunjukkan perhatiannya terhadap tipe lain dari stratifikasi yang berasal dari pengakuan terhadap suatu status memungkinkan mematahkan struktur kelas.
Berkaitan dengan pengaruh industri terhadap keluarga, pengaruh industri terhadap sistem stratifikasi mungkin bisa bersifat langsung melalui kekuatan ekonomi serta posisi dan wewenang di dalam perusahaan, ataupun bisa juga bersifat tidak langsung, yaitu melalui status dalam perusahaan yang ditransmisikan menjadi status dalam masyarakat, termasuk melalui rantai antara situasi pasar dan gaya hidup.
Mungkin satu-satunya penelitian terbaik yang pernah di lakukan di Inggris mengenai tingkat sosial berkaitan dengan pekerjaan adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh Hall dan Jones pada tahun 1950.
Mereka menyatakan bahwa tidak ada perbedaan ataupun pengistimewaan dalam penentuan tingkat pekerjaan yang diseleksi.
Tetapi ternyata ada perbedaan dalam menentukan ‘‘rata-rata‘‘ dalam ‘‘skala pekerjaan‘‘, dimana kelihatannya rata-ratanya lebih besar untuk tingkat pekerjaan pada daerah sentral daripada daerah atas dan bawah dari skala ‘‘pekerjaan‘‘.
Juga terdapat suatu kecenderungan untuk menetapkan status pekerjaan yang diseleksi sebagai variabel status pekerjaan responden yang nyatanya lebih rendah.
Beberapa kritik terhadap Penelitian-penelitian yang telah dilakukan, berbagai penelitian terhadap status jabatan atau 75 pekerjaan telah banyak dikritik oleh banyak orang, karena para peneliti sebenarnya mencoba membentuk berbagai perbedaan yang secara normal sebenarnya tidak ada dalam masyarakat.
Gagasan yang tersembunyi dibelakang penelitian tersebut ialah bahwa kebanyakan status pekerjaan bersifat hirarkis dan dibuatkan dalam suatu skala status: Reiss pada tahun 1961 menegaskan bahwa ‘‘skala status pekerjaan dibuat hanyalah berdasarkan penaksiran yang ternyata tidak menghasilkan suatu skala yang unidimensional untuk semua pekerjaan, dan sesungguhnya status itu merupakan suatu gejala multidimensional dan demikian pula halnya dengan indikator dari status bersifat multi-dimensional‘‘ .
Suatu alasan yang menyebabkan banyaknya kritik terhadap konsep status pekerjaan ialah bahwa dalam konsep tersebut, status dijadikan sebagai indikator tunggal, dan cara pengklasifikasian bersifat vertikal.
Pada tahun 1959; Morris dan Murphy telah menggunakan istilah ‘‘situs‘‘ untuk mengklasifikasikan pekerjaan secara horisontal, dimana pekerjaan diklasifikasikan berdasarkan fungsinya.
Ke empat sumber status tersebut mungkin memiliki tingkat yang sama, mungkin juga tidak, hal ini tergantung pada pandangan masyarakat terhadap pekerjaannya itu sendiri.
Jika seseorang memiliki status yang tinggi dalam suatu pekerjaan, misalnya dikarenakan imbalannya yang tinggi, bisa saja merasa rendah diri bila pekerjaan tersebut memiliki nilai prestise yang rendah.
Perusahaan-perusahaan industri, baik secara kolektif maupun individual, memiliki suatu sistem stratifikasi yang memiliki aspek-aspek internal dan ekternal.
Seperti halnya dalam 76 masyarakat umum yang mengenal kelas-kelas sosial atau tingkat status, didalam perusahaan industri pun terdapat hirarki kekuasaan yang pada hakikatnya berkaitan dengan tingkat status sipemegang kekuasaan tersebut.
Tetapi jika pihak manajer mangkir maka potongan gaji yang dilakukan sangat sedikit, padahal untuk mengoperasikan pekerjaan secara normal minimal diperlukan kehadiran 98% pekerja biasa dan hanya memerlukan minimal kehadiran 6% manager.
Huaco menerangkan teori stratifikasi berdasarkan pada tiga postulat, yaitu :
a. Imbalan yang tidak sarna yang dikaitkan dengan perbedaan posisi adalah penyebab mobilitas individu untuk mendapatkan posisi tertentu. b. Eksistensi dan operasi keluarga adalah penyebab timbulnya status. c. Terbatasnya tenaga-tenaga bermutu menyebabkan timbulnya stratifikasi
Sampai saat sekarang para ahli teori social action belum mengembangkan suatu teori tentang stratifikasi, walaupun sesungguhnya tidak sulit bagi mereka untuk berbuat demikian. Strata didalam masyarakat maupun industri tidak berada di luar atau terpisah dari faktor situasi dalam masyarakat.
c. industri dan politik
Dalam arti luas, industri yang berkaitan dengan teknologi, ekonomi, perusahaan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya telah sangat mempengaruhi masyarakat. Industri memberi input kepada masyarakat sehingga membentuk sikap dan tingkahlaku yang tercermin dalam sikap dalam bekerja. Weber mengatakan bahwa dengan adanya teknologi baru, diperlukan suatu nilai yang akan mengembangkan masyarakat menjadi masyarakat kapitalis tradisional; demikian pula jika hendak membentuk masyarakat kapitalis modern, diperlukan suatu nilai-nilai tertentu. Form dan Miller pada tahun sejak 1960 mengatakan bahwa ada lima jenis interaksi antara interest group tersebut dengan masyarakat yaitu:
1. Business-dictated.
2. Business-deminated.
3. Labour-mediated
4. Equilibrium
5. Family-mediated.
Ada teori lain mengenai interaksi antara industri-masyarakat, dengan menggunakan empat pendekatan, yaitu :
a) Structural functional, penyebaran industri ke dalam sub sistem masyarakat
b) Compensation, sumber sosiabilitas tidak ada di dalam masyarakat lokal.
c) Welfare (kesejahteraan), pihak industri mengambil bagian sebagai partner masyarakat.
d) Power, industri menjadi sumber kekuatan yang mempengaruhi masyarakat.
Dalam rangka mempengaruhi kebijakan pemerintah daerah, wakil-wakil industri interes akan bergabung ke dalam suatu organisasi “presure group” dan pada saar yang bersamaan personal-personal pihak industri sendiri sering ikut langsung memgang politik dengan tujuan memajukan kepentingan ekonomi mereka. Kemampuan pihak perusahaan untuk mempengaruhi kebijaksanaan politik pemerintah dengan melakukan partisipasi langsung di dalam pemerintahan adalah suatu aspek kontrol dari jalinan kelompok elite dalam industri dan dalam pemerintahan.
Cara-cara langsung dari pemerintah untuk mengontrol industri ialah melalui kebijaksanaan anggaran, pajak, kontrol jual-beli, pengontrolan terhadap modal publik dan kontrol terhadap distribusi produk maupun penyebaran industri. Sebagai pengusaha pemerintah secara langsung berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi melalui 4 (empat) cara yaitu :
a) Pemerintah sebagai pembeli terbesar dari barang-barang dan jasa untuk menjalankan roda pemerintahannya. b) Pemerintah sebagai majikan; kurang lebih 1 juta orang penduduk Inggris bekerja pada pemerintah, dari seluruh pekerja di Inggris yang berjumlah 24 juta orang c) Pemerintah memberikan pengaruh langsung kepada kegiatan bisnis dengan melalui berbagai lembaga keuangan yang dimilikinya, misalkan bank, tetapi tidak ikut langsung dalam kegiatan manajemennya. d) Pemerintah sebagai pengusaha langsung dengan memproduksi barang-barang dan menjualnya secara terbatas untuk kepentingan sendiri.
Nordlinger (1967) menyatakan bahwa walaupun suatu perusahaan besar cenderung ke arah kiri (Partai Konservatif), tidak berarti bahwa para pekerjanya akan memiliki kecenderungan yang sama, karena bisanya hubungan antara pekerja dan majikan tidak begitu akrab.
Dia melakukan penelitiannya terhadap para pekerja Bradford, dan hasil penelitiannya diungkapkan sebagai berikut : ‘‘Suatu kekuatan buruh yang berorientasi kiri akanmendorongnya mengarah pada 81 intensifikasi nilai yang akan menyebabkan peranan dan aktivitas masing pihak terlihat secara lebih jelas‘‘ .
d. organisasi di era industri
Organisasi adalah suatu karakteristik panting dalam masyarakat industri dan perkotaan. Organisasi sosial adalah suatu susunan yang sangat luas dari berbagai bentuk hubungan dan proses, jadi struktur sosial berada dalam semua tingkat struktur sosial.
Menurut Blau dan Scoot (1963) organisasi adalah suatu kumpulan individu yang batasannya jelas, aturan yang bersifat normatif, jenjang kekuasaan sistem komunikasi dan sistem keanggotaan yang terorganisasi.
Fox berpendapat bahwa minimal organisasi terdiri dari sistem peranan sanksi dan komunikasi dan intisari dari organisasi adalah keteraturan, standarisasi dan perilaku yang berulang-ulang.
tantangan pertama akibat kelalaian terhadap kontrol, power dan konflik. Tantangan kedua terhadap pendekatan sistem struktutalis ini berasal dari suatu tinjauan interaksionis yaitu apakah organisasi itu nyata atau apakah ia adalah suatu yang berinteraksi secara bersama-sama lebih daipada sekedar interaksi antar individu.
Pugh (1971) mengelompokkan enam model utama :
1. Teori Ekonomi > ciri khas keuntungan dan kerugian
2. Teori Teknologi
3. Teori individu > masalah sikap, tingkah laku dan ciri-ciri pribadi individu
4. Teori kelompok
5. Teori Stuktural > kelompok yang memiliki keteraturan dalam hierarki wewewan
6. Teori Managemen
Salah satu tipologi yang paling terkenal adalah khasifikasi organisasi yang didasarkan atas tujuan tipologi sebagaimana dikembangkan oleh Tallcot Parsons pada tahun 1960, yakni:
1. Production Organization (organisasi produksi), yaitu: suatu organisasi yang berusaha memproduksi barang atau jasa sesuai dengan kebutuhan sistem sosial yang mengelinginya. contohnya perusahaan-perusahaan perdagangan,
2. Political Goal Organization. Yaitu: organisasi tipe ini memusatkan semua aktifitasnya untuk mencapai tujuan politik. Contoh partaipartai politik
3. Integrative Organization. Yaitu: Suatu organisasi yang baik bentuk maupun motifnya terintergasi dan terarahkan
4. Educational dan Cultural Organization. berhubungan dengan pendidikan dan kebudayaan.
Bentuk-bentuk Complience Relationship bisa berupa:
1. Coercive,
2. Remunerative
3. Normative,
Blau dan Scott (1963) menjelasksan suatu prinsip diferensiensi, yaitu: “siapa yang menggunakan” dan “siapa uamg mendapat keuntungan”, mereka mengusulkan bahwa masyarakat yang output organisasi dapat digunakan untuk mengidektifikasi tipe-tipe organisasi dan katakter partisipasi para anggotanya serta berbagai problema yang dihadapi organisasi. Dengan prinsip-prinsip di atas, mereka mengklasifikasikan organisasi tersebut akan menjadi sebagai betikut:
1. Matual Benefit Organization. contoh yayasan
2. Owner benefit Organization.
3. Common Weal Organization (Organisasi Kemasyarakatan) contoh rt/rw
Suatu kesimpulan umum mengenai teori-teori yang diajukan oleh Etzioni, Blau dan Scott ialah bahwa organisasi bersifat komplek dan tidak mudah mengklasifikasikan hanya dengan satu kriteria atau hanya dala satu dimensi.
e. industri dan implikasinya terhadap agama
Ada common sense mengenai masa depan agama dalam suatu masyarakat industrial, sering diungkapkan dalam percakapan seharihari bahwa industrialisasi dan modernisasi merupakan ancaman terhadap religiusitas.
Memang benar bahwa bentukbentuk perubahan sosial yang menyertai proses industrialisasi telah memengaruhi secara negatif kehidupan keagamaan, misalnya dalam masyarakat industri, peranan pengelompokan sekunder semakin menggeser pengelompokkan primer.
Karena itu melalui 85 berbagai sebab, peranan orangtua, khususnya ayah, sebagai agen sosialis anak, akan semakin berkurang untuk digantikan oleh bentukbentuk hubungan sosial yang lain, misalnya sekolah dan pergaulan.
Hal itu berarti paling tidak semakin sempitnya daerah kegaiban atau misteri, padahal tindakan keagamaan dilakukan karena pengakuan adanya kenyataan supra empiris atau gaib dan misteri.
Terkait dengan konsep kegaiban atau misteri, yaitu merupakan perasaan tidak berdayanya manusia terhadap kenyataan-kenyataan yang diperkirakan tidak akan mampu dimengerti.
Pada masyarakat yang didominasi oleh nilai-nilai ilmu pengetahuan, suatu terra incognito akan menyuguhkan tantangan untuk diselidiki dan dibongkar rahasia dari misteri.
Tetapi, pada masyarakat lain, ketidakberdayaan manusia menghadapi alam telah melahirkan konsep dan tindakan yang bersifat religius magis.
Memuja suatu objek alam yang dianggap memiliki rahasia dan keagungan dapat dilihat sebagai lompatan jauh seorang manusia dalam usahanya menundukkan objek tersebut untuk kepentingan dirinya.
Proses industrialisasi akan membawa serta akibat menurunnya religio-magisme yang, untuk sebagian masyarakat, merupakan religiusitas itu sendiri.
Namun, pada masyarakat lain, industrialisasi dan modersnisasi mungkin justru menopang dan meningkatkan religiusitas yang paling murni dan sejati ialah yang berdimensi budaya instrinsik atau cultural consumatory yaitu sikap keagamaan 86 yang memandang kepercayaan atau iman sebagai tujuan pada dirinya sendiri.
Dimensi religiusitas ini yang agaknya akan semakin diperkuat oleh adanya pola-pola hubungan masyarakat industrial.
Karen hal-hal yang bernilai instrumental telah dengan melimpah disediakan oleh struktur dan pola masyarakat industri itu.
Maka agama akan menjadi semakin murni, dalam arti bawah keagamaan tidak lagi banyak mengandung nilai instrumental.
Contohnya, karena intrumen untuk meberas hama tanaman pada masyarakat industi disediakan oleh ilmu dan teknologi, misalnya dalam bentuk doa dengan tujuan agar tanamannya di sawah tidak terkena hama.
Ada persyaratan lainnya adalah religiusitas harus bersandar pada konsep wujud supra empiris yang tidak bergeser menjadi empiris.
Suatu objek yang dahulu dianggap agung dan penuh misteri atau kegaiban sehingga patut dipuja, misalnya matahari, kini sudah semakin dipahami manusia dan terbuka rahasia-rahasianya.
Maka, bagi seseorang yang religiusitasnya berkaitan dengan konsep kegaiban matahari, proses industrialisasi dan modernisasi benar-benar telah menghapuskan sama sekali religiusitas itu.
Hal ini membawa kita ke ungkapan sederhana, namun mungkin sekali mengandung kebenaran yang bersifat prinsipil, bahwa ada atau tidak adanya religiusitas, baik di masyarakat industrial maupun lainnya, tergantung kepada kegiatan penanaman iman oleh masyarakat bersangkutan, yaitu pendidikan keagamaan pada umumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar